Pada tanggal 03 Agustus 2022, UKM Imakris UM dan UKM kerohanian lainnya berkesempatan untuk berkunjung ke Desa Pancasila. Desa yang terletak di Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan ini disebut-sebut dengan istilah Desa Pancasila karena disana terdapat masjid, gereja, dan pura yang lokasinya berdekatan serta masyarakatnya menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama. Kami dan rombongan disambut baik oleh Kepala Desa yaitu Bapak H. Khusyairi dan beberapa tokoh agama yaitu tokoh agama Islam Bapak Titis Sutarno, tokoh agama Kristen Bapak Sutrisno, dan tokoh agama Hindu Bapak Tadi. Kegiatan kami di sana meliputi pemberian materi oleh Kepala Desa dan para tokoh agama kemudian tanya jawab, dan dilanjutkan kunjungan ke tempat ibadah.

Desa Pancasila merupakan desa yang tidak jauh berbeda dengan desa-desa di daerah lain. Namun, hal yang membuatnya menarik adalah masyarakat di sana dapat hidup rukun sekalipun hidup dalam keberagaman agama. Bahkan dalam satu keluarga, terdapat tiga agama yang berbeda. “Loh, malah ada yang serumah itu menganut tiga agama beda, mbak,” tutur Bapak Kepala Desa ketika memberi jawaban pada sesi tanya jawab. Hal yang tak kalah menariknya adalah ketika ada perayaan pada agama tertentu, seluruh masyarakat terlibat dalam persiapan dan membantu baik dalam bentuk pikiran atau ide, tenaga, maupun finansial. Contohnya, ketika umat Kristen merayakan Natal, ada penampilan rebana dari remaja masjid di gereja. Mereka dapat hidup berdampingan tanpa membeda-bedakan agama yang dianut.

Bapak Titis Sutarno selaku tokoh agama Islam menjelaskan bahwa gotong royong masyarakat Desa Balun ini masih sangat terjaga dikarenakan ada hubungan kekeluargaan yang menyebabkan kerukunan. Bapak Sutrisno selaku tokoh agama Kristen menjelaskan bahwa masyarakat sudah terbiasa untuk dapat menempatkan diri, yang berarti mereka dapat menerima agama lain sebatas sebagai ilmu bukan untuk diyakini. Masyarakat Desa Balun juga saling mengalah apabila ada jadwal ibadah yang bersamaan. Salah satunya adalah ketika hari perayaan Nyepi, semua masyarakat akan mematikan lampu teras sebagai bentuk menghormati umat agama Hindu. Masih banyak sikap lain yang dapat kita teladani dari masyarakat desa Balun sebagai umat antar agama. Bapak Tadi selaku tokoh agama Hindu menjelaskan bahwa mereka tidak mudah terpecah belah ataupun terprovokasi apabila ada pihak eksternal yang berusaha memecahkan kerukunan mereka dengan doktrin yang dirasa tidak sesuai dengan prinsip yang mereka pegang, yaitu menjaga kesatuan. Bahkan tidak jarang, antar umat beragama\saling membela bila ada pihak-pihak yang berusaha menyudutkan salah satu agama.

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *