Kematian Arius
Tulisan oleh : Yulius Eka Aldianto (Imakriser – S1 Geografi 2016 UM)
Ditinjau oleh : Edward Mesak Dua Padang

Sebagai Orang Kristen kita sering kali dituduh telah menuhankan manusia. Waktu masih SMA, saya pernah ditayangkan video oleh guru saya (dia berbeda iman dengan saya) yang menyatakan bahwa Yesus baru diangkat menjadi Tuhan tahun 325 M di Konsili Nicea. Saat mendengar video tersebut, iman saya juga sempat goyah karena saya tidak menemukan jawaban yang benar-benar memuaskan saya. Waktu itu saya juga tidak mengetahui adanya Konsili Nicea, karena setau saya Kristen yang Alkitabiah baru saat abad ke-16 setelah reformasi protestan. Dan saya sempat mengira masa sebelum abad ke-16 itu adalah zaman kegelapan, karena saya pernah mendengar ada praktik penjualan surat penebusan dosa di Gereja Katolik. Yang saya tahu waktu itu hanyalah Gereja Katolik dan Protestan, padahal ada Gereja-Gereja lain di wilayah Timur atau yang lebih dikenal Ortodoks, Selain itu, juga ada Gereja Katolik ritus timur seperti Gereja Maronite di Lebanon yang merupakan Gerejanya Kahlil Gibran, penyair yang terkenal itu. Dengan pengetahuan yang seperti itu seolah-olah saya kehilangan sejarah Kekristenan selama 16 abad karena langsung lompat ke reformasi protestan. Jadi, saya tidak mengetahui apa itu Konsili Nicea. Nah, dari tulisan ini saya memohon ijin untuk menceritakan tentang pengalaman iman saya dan ini bukanlah sebuah karya ilmiah yang banyak mengandung kutipan tetapi di bagian akhir akan saya cantumkan beberapa referensi saya agar pembaca juga melakukan check and recheck tulisan saya ini.

 

Pertama-tama, benarkah Konsili Nicea diadakan untuk melantik Yesus sebagai Tuhan? Konsili Nicea adalah penegasan iman, bukan pembuatan ajaran baru. Jadi cerita singkatnya begini: Pada waktu itu ada seorang imam di Alexandria yang bernama Arius. Dia berkhotbah dan mengatakan ajaran sesat bahwa “Pernah ada waktu dimana Anak Allah Pernah tidak ada”. Dari pernyataan itu dia mengatakan bahwa Anak Allah itu diciptakan dan dia menolak Keilahian Kristus. Ajaran ini tidak bisa dianggap sepele karena dapat merusak kemurnian ajaran Gereja yang Rasuli. Dengan pengajaran sesatnya ini, kemudian Arius disidang oleh Dewan Gereja lokal di Alexandria yang dihadiri oleh 100 uskup dan dia diturunkan dari jabatan keimamannya. Dengan putusan sidang tersebut, ternyata tidak cukup untuk menghentikan kejahatan Arius untuk menyebarkan ajaran sesatnya, justru dia menggalang dukungan ke wilayah luar Alexandria. Dengan adanya ajaran sesat yang merongrong Gereja ini, maka perlu dilakukan Konsili Ekumenis untuk menegaskan iman dan melindungi Gereja agar tidak jatuh ke dalam ajaran sesat. 

 

Konsili Ekumenis tahun 325 M bukanlah yang pertama dilakukan. Sejak zaman para Rasul sudah pernah diadakan, yaitu Sidang di Yerusalem seperti yang tercatat dalam Kisah Para Rasul pasal 15. Ketika itu Orang-orang Yahudi memaksakan hukum adat Yahudi terhadap orang-orang non Yahudi. Roh Kudus menyertai para Rasul untuk menentukan putusan dalam sidang tersebut seperti dijelaskan dalam Alkitab “Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini:” (Kisah Para Rasul 15:28). Dari sini kita bisa belajar bahwa ajaran Gereja bukan ajaran perorangan namun dalam komunitas dan Roh Kudus selalu menyertai Gerejanya sejak zaman Para Rasul hingga sekarang.

 

Mula-mula Konsili Ekumenis tahun 325 M akan diadakan di Kota Ankara, namun dipindahkan ke Kota Nicea. Salah satu pertimbangan Kaisar Konstantin memindahkan lokasi konsili karena Uskup Ankara yang bernama Marcellus sangat ekstrim anti-Arian. Dari sini kita bisa melihat bahwa Kaisar Konstantin lebih condong kepada Arius. Ini membantah tuduhan bahwa Yesus diangkat menjadi Tuhan karena atas perintah Kaisar Konstantin, padahal kaisar justru condong ke kelompok yang menolak Keilahian Kristus (Arianisme).

 

Konsili Nicea diadakan pada tanggal 20 Mei sampai 19 Juni 325 M. Konsili ini dihadiri oleh 318 uskup dari seluruh dunia. Perlu diketahui juga sejak zaman para Rasul hingga abad ke-5 Gereja masih satu doktrin. Saat itu ada 5 pusat kekristenan (kepatriakhan) yaitu: Yerusalem, Anthiokia, Roma, Aleksandria dan Konstantinopel. Setiap pusat tersebut memang menyelenggarakan Gerejanya sendiri-sendiri, namun itu hanyalah wilayah yurisdiksi. Yerusalem untuk wilayah tanah suci dan sekitarnya; Anthiokia untuk wilayah timur; Roma untuk wilayah Eropa barat; Aleksandria untuk wilayah Afrika; dan Konstantinopel untuk wilayah Eropa timur. Jadi sistemnya otonom kolegial. Masing-masing Gereja juga meneruskan ajaran Rasuli, seperti Yerusalem meneruskan ajaran Rasul Yakobus; Anthiokia meneruskan ajaran Rasul Petrus; Roma meneruskan ajaran Rasul Petrus; Aleksandria meneruskan ajaran Rasul Markus; Konstantinopel meneruskan ajaran Rasul Andreas dan Gereja-gereja di wilayah lain juga meneruskan ajaran para Rasul yang lainnya. Jadi, ketika bertemu di Konsili Nicea ajarannya masih sama karena bersumber dari satu yaitu Tuhan Yesus Kristus yang kemudian disebarkan oleh Para Rasul, sekalipun ada perbedaan-perbedaan kecil tetapi masih bisa didialogkan.

 

Hasil dari Konsili Nicea adalah Pengakuan Iman yang disetujui oleh semua Gereja. Selama ini yang kita kenal hanyalah Pengakuan Iman Rasuli. Itu adalah pengakuan iman Gereja lokal di Roma, sedangkan Pengakuan Iman Nicea adalah Pengakuan Iman yang diakui seluruh Gereja sebelum perpecahan. Pengakuan Iman Nicea masih belum membahas mengenai Roh Kudus. Pembahasan mengenai Roh Kudus baru dilakukan tahun 381 M di Konsili Konstantinopel. Dalam konsili ini juga dilakukan menyempurnakan Pengakuan Iman Nicea, sehingga dikenal dengan Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel. 

 

Mengapa Gereja perlu memiliki pengakuan iman? Ini bertujuan untuk menegaskan iman yang dipercayai oleh Gereja. Pengakuan Iman ini dibuat karena saat itu Gereja menghadapi ajaran sesat, dimana tahun 325 menghadapi ajaran sesat Arius yang mengatakan Firman Allah diciptakan dan tahun 381 menghadapi ajaran sesat Macedonius yang mengatakan Roh Kudus itu diciptakan. Sehingga perlu adanya pengakuan iman untuk membentengi Gereja dari ajaran sesat yang dapat merongrong keutuhan gereja. Berikut bunyi Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel yang diakui oleh semua Gereja di seluruh dunia:

 

Kredo Nikea Terjemahan Bahasa Indonesia

Sumber: BN Weekly Online Lecture

 

Akhir-akhir ini juga muncul kelompok yang anti ajaran Tritunggal, bahkan kelompok ini muncul dari kalangan Kristen sendiri. Mereka mengatakan bahwa Tritunggal itu bukan ajaran Alkitab, karena di dalam Alkitab tidak ada kata Tritunggal. Mereka juga mengatakan bahwa Tritunggal baru ada ketika Konsili Nicea. Memang benar kata Tritunggal tidak ada dalam Alkitab, tapi substansinya kan ada. Bahkan dalam Alkitab juga tertulis: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,” (Matius 28:19). Ajaran Tritunggal ini dihayati sejak zaman Para Rasul. Salah satu dokumen yang mencatat tentang penghayatan dan pemujaan terhadap Tritunggal adalah kematian Polikarpus dari Smirna. Polikarpus adalah murid langsung dari Rasul Yohanes. Dia memuja Tritunggal saat menjalani hukuman mati dengan dibakar hidup-hidup karena imannya: “Aku memuji nama-Mu oleh Imam besar Sorgawi yang kekal, yaitu Yesus Kristus Putra terkasih-Mu, yang oleh-Nya dan bersama-sama dengan-Mu, ya Bapa Sorgawi dan dengan Roh Kudus-Mu, segala hormat dan kemuliaan dari sekarang dan kekal selama-lamanya” (Dikutip dari Buku Answering The Misunderstanding jilid 1 hal. 174 dan bisa dicek juga pada buku The Apostolic Father hal. 86). Menurut dokumen sinaksarion Koptik, Polycarpus wafat pada tanggal 29 bulan Amshir, atau bertepatan dengan tanggal 22 Februari 156 M (Kalender Julian). Jadi, ajaran Tritunggal sudah jelas ada dalam Perjanjian baru dan kemudian diteruskan oleh murid dari para Rasul hingga turun temurun. Sekarang pilihan Kembali pada setiap pribadi mau percaya kepada para Rasul yang jelas-jelas menerima ajaran langsung dari Sang Firman Yesus Kristus atau dari para penolak ajaran Tritunggal yang berjarak 2000 tahun dari peristiwa. Kiranya tulisan ini bisa menjadi berkat bagi pembaca dan semakin menguatkan imannya kepada Tuhan Yesus Kristus.

 

Sumber Bacaan:

  • Buku “Answering The Misunderstanding Jilid I” Oleh Dr. Bambang Noorsena, S.H., M.A.
  • Buku “The Apostolic Father” Oleh Joseph Barber Lightfoot diunduh dari (https://www.ccel.org/ccel/lightfoot/fathers.html)
  • Dokumen Gereja Ortodoks Koptik di Indonesia yang berjudul “Konsili Ekumenis Pertama diadakan pada tahun 325 M pada kesempatan bidat Arius (Arianisme)”
  • Koptik Sinaksarion tentang Kematian Polikarpus diakses dari (http://copticchurch.net/synaxarium/6_29.html#1)

 

Artikel ini dikirimkan melalui fitur Imakriser Berkarya dan ditayangkan setelah melalui proses review. (Adm/IMK)shock drop air force 1 full uv reactive | nike air max 2007 junior pink and white background – 401 – Ietp – New Air Jordan 1 High OG OSB DIAN Blue Chill Sorrowful CD0463

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

One thought on “Konsili Nicea 325: Perlawanan Gereja terhadap Ajaran Sesat Arius”

  1. Membuka hati agar Roh Kudus leluasa memberi hikmat dalam memahami dan melakukan Firman Tuhan menjadi Jalan utk kebenaran dinyatakan dalam hidup kita.
    Pengalaman iman kpd Kristus selalu menyejukkan roh kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *